Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

AEDIN & NYAMAN

Ibu-ibu Desa Sidorejo & Banyumas Perempuan secara sikap harus hangat, lembut, dan mengayomi. Lalu enak dipandang. Artinya segala produk kecantikan dan produk fashion memang hadir agar perempuan “enak di pandang”. Jika seorang anak perempuan berpakaian seperti laki-laki misalnya menggunakan kaos oblong, jeans, sepatu sneaker, dan tanpa make up. Maka ia akan di pandang aneh. Lalu menjadi olokan di lingkungan sosialnya. Begitulah stigma yang tertanam jelas dalam tatanan masyarakat kita.                Namanya Aedin, seorang perempuan Tomboy yang merupakan pemeran utama Film “AEDIN”. Film yang berdurasi 7 menit dan di sutradarai oleh Zahratul Nurjannah dari rumah produksi UKM IMSI (Ikatan Mahasiswa Sinematografi) tahun 2017. Film ini bercerita tentang “Hari Kartini” yang dirayakan oleh semua perempuan kecuali dirinya. Aedin sedikit berbeda dengan tampilan perempuan lainnya. Dengan potongan rambut pendek, muka...

PERAWAN DAN PEREMPUAN

Perempuan Muda Desa Sumber Urip dan Talang Lahat             Perawan sangat erat kaitannya dengan seorang Perempuan. Semacam adik kandung yang tidak dapat di pisahkan, kedua kata ini menyatu, dan membentuk sebuah stigma yang berkembang biak di dalam tatanan sosial masyarakat. “Masih Perawan” atau “Sudah Tidak Perawan Lagi” adalah momok menakutkan bagi seorang Perempuan. Reaksi yang diberikan oleh masyarakat pun beragam. Dari mulai perlakuan yang teramat istimewa hingga pembedaan yang memilukan hati.                 Lewat film “Perawan” yang disutradarai oleh Fitria Heni Sa’adah dan di produksi tahun 2016 oleh Komunitas Wadon Films asal Yogyakarta. Film ini sukses diputar di Balai Desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong. Film ini bercerita tentang   seorang remaja bernama Nala yang lahir dari rahim Narni yang hamil akibat perkosaan. Narni diperk...

PERKAWINAN ANAK MELAHIRKAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

Sekitar 75 orang anggota Forum Perempuan dan Laki-laki Muda Kabupaten Seluma dampingan Cahaya Perempuan WCC bersama Aliansi Satu Visi (ASV) menyelenggarakan Perayaan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dengan kegiatan Nonton dan Diskusi Bareng Kaum Muda di Lapangan Tertutup Futsal Talang Tinggi, Kabupaten Seluma, tepatnya di tgl 25 November 2018. Film ELINAH satu dari 16 Film Festival yang diputar serentak di beberapa kota/kabupaten di Indonesis. Film Elinah, berdurasi 19 menit yang mengajak pentonon berfikir ulang tentang akibat perkawinan di usia anak. Bercerita tentang Seorang gadis bernama Elinah yang sudah menikah dengan laki-laki dewasa. Elinah mengalami kehamilan, namun ia masih bersikap seperti anak- anak. Hal ini tergambar melalui adegan Ia memanjat pohon mangga, meninggalkan masakan yang sedang ia masak di atas kompor. Secara psikologis, ia mengalami tekanan pada masa kehamilan dan berniat untuk kabur, pulang ke kampung halaman dan menemui ibunya. Namun, hal itu...

HALO! LIGHTS 2018

Living Of Human Rights (LIGHTS) pada tahun 2018 diadakan di Tebet, Jakarta Selatan. Acara ini berlangsung sejak tangal 05 Agustus 2018 hingga 18 Agustus 2018. Acara ini diadakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat yang tentunya di sponsori oleh banyak pihak. *namun yang pasti aku tidak akan menyebutkan sponsor utama kegiatan ini, mengingat aku memang tak suka menyebutnya haha Kepergianku ke Jakarta kali ini diwarnai adegan drama. Semacam drama korea namun lebih hot, wkwkw :D Pertama adalah drama kampus, dimana portal akademik tidak bisa terbuka. Aku harus menyelesaikan urusan ini, agar aku masih terdaftar menjadi mahasiswa di kampusku. Namun, ini selesai dan di permudah oleh pihak jurusan. oh iya, surat izin ku pun sudah keluar. Aku mengambil izin satu minggu. Kedua drama di keluargaku. Untunglah drama ini selesai dan tanpa derai airmata, hahhah... Ibuku pulang ke Bengkulu dan menggantikan tugasku untuk menjaga nenek. Dan nenek mendoakan kepergianku dengan sangat lancar. Al...

Bersama Tak Berarti Satu (Bagian 1)

Pertemuan dengan seorang laki-laki baru yang ku kenal lewat media sosial berakhir pada kenyataan pahit bahwa aku sekarang di tinggalkan, dengan sedikit derai airmata. Aku mencoba mengingat. Kala itu.. Namaku Naomi Wicaksono. Gadis muda berparas cukup cantik dengan kulit kuning langsat, hidung mancung dan rambut panjang sebahu. Dengan ciri khas sebuah syal berwarna putih kebiruan yang selalu aku kenakan. Aku adalah wanita yang aktif berorganisasi dan mempunyai hobi traveling. Meski baru berusia 18 tahun, aku sudah mengelilingi 3 palau yang ada di Indonesia dengan total 15 Provinsi. Saat ini aku duduk di bangku SMA dan sudah kels 12. Kiki, dan caca adalah  teman seperjuangan yang membuat diriku mendapat gelar EMAK. Yaa.. menjadi Emak mereka, tingkah Caca yang kadang lemot dan gak nyambung ketika diajak ngobrol dan Kiki yang liar kalo ketemu cewek. Dan aku wanita absurd (begitu kata mereka) yang pintar di pelajaran sekolah namun tidak pandai dalam cinta.  Alasan kenap...

Bersama Tak Berarti Satu (Bagian 2)

Aku pamit untuk pulang ke Bengkulu, karena ada beberapa urusan yang harus di selesaikan. Setelah berpamitan dengan keluarga Andi, ia mengantarku ke bandara. Selama di perjalanan menuju bandara, Andi memintaku menulis tempat yang ingin aku kunjungi bersamanya. Dan semakin hari hubungan kami semakin mesra, hingga sekarang aku sudah menyelesaikan kuliahku. Saat syukuran wisudaku, Andi datang ke Bengkulu. Ia mengatakan ingin melamarku tahun depan, karena saat ini ia sedang di promosikan untuk naik jabatan. Aku ingin menyiapkan semuanya sesempurna mungkin, sesuai dengan cita-cita mu, Omi. Begitu katanya. Kukatakan iya, dengan alasan aku juga ingin meniti karir dan menikmati masa lajang bersama orangtua sebelum sah menjadi istri dan pindah ke Depok. Hingga.. Andi menelpon dan memintaku untuk pergi ke Depok, ia hanya mengatakan bahwa ia rindu dan ingin bertemu. E-ticket pun kuterima, dengan jadwal kepulangan minggu depan pada tanggal 21 mei yang bertepatan dengan anniversary hubu...