Pulau Enggano sangat indah. Lautnya yang biru, ombaknya yang tenang, pantai dengan pasir koral yang berwarna kecoklatan dan beberapa pohon besar yang berdiri kokoh di pinggir pantai. Pemandangan yang indah. Penyambutan yang pas!
Pulau Enggano. Namanya tidak asing didengar oleh masyarakat Bengkulu, namun hanya beberapa orang saja yang pernah menjelajah kesini. Menurut Pabbuki (Sebutan untuk raja) nama Enggano memiliki arti kecewa. Pulau ini adalah satu dari beberapa Pulau Terluar di Indonesia. Memiliki luas 397,2 km2 dan dihuni oleh sekitar 3000 jiwa Penduduk. Di pulau ini terdapat 6 desa yang membentang di pesisir pantai, yaitu Desa Kaana, Desa Kahyapu, Desa Malakoni, Desa Apoho, Desa Meok dan Desa Banjarsari. Kak Engga becerita, bahwa terdapat 6 suku yang terdapat di pulau ini yaitu, Kaitora, kahua, kaarubi, kauno, dan kamaay (suku pendatang).
Beruntungnya kami karena bekerja sama dengan Parke (Perkumpulan Remaja Enggano) yang bersedia menjadi tour guide kami serta mengetahui seluk beluk mengenai pulau ini.
Ketika tiba di pelabuhan Desa Malakoni, terdapat fasilitas seperti rumah makan dan beberapa toko manisan. Sehingga kita dapat mengisi perut yang keroncongan setelah 14 jam di goyang kapal.
Pagi ini, kami disambut oleh Pabbuki bernama Datuk Ferdinan atau Raja di Pulau Enggano. Seperti kebiasaan yang telah dilakukan, setiap tamu yang datang ke Pulau ini akan disambut oleh Pabbuki. Kami datang ke rumahnya dengan mengendarai mobil pick up yang telah selesai mengangkut pisang.
Rumah Pabbuki tak jauh dari Pelabuhan. Hanya berjarak 100 meter saja. Rumahnya tampak sederhana, berdinding setengah papan dan bata, Beralasakan semen biasa. Ketika memasuki rumah, tersusun rapi hiasan khas Enggano berbagai bentuk yang terbuat dari kulit kerang laut yang mudah di temui di pinggir pantai.
Kami disambut senyum ramah Pabbuki dan diberi nasehat mengenai tata cara untuk tinggal di Pulau ini. Berdasarkan keputusan Pabbuki, kami ditempatkan Di rumah adat Suku Kauno di Desa Meok. Untuk menuju kesana, kami harus menempuh perjalanan selama 30 menit menggunakan mobil pick. Up.
Sepanjang jalan, kami di suguhkan pemandangan kebun warga yang ditanami pohon melinjo, cengkeh dan kopi. Suara burung yang merdu terdengar dari arah hutan. Serta beberapa burung laut yang menuju ke pantai. Kami tertegun melihat banyaknya kelelawar yang beterbangan menuju pohon besar. Ukurannya terbilang besar. Dan baru kali ini saya mendengar suara kelelawar yang begitu ramai.
![]() |
| Datuk Harun |
Kami tiba di Rumah Adat Suku Kauno dan disambut oleh Datuk Harun. Beliau tinggal di sebelah rumah adat. Beliau juga mempersilahkan kami untuk istirahat di rumahnya, dan berbincang mengenai perjalanan seru yang akan kami lakukan.
Malam ini kami akan melakukan pemutaran film di desa ini. Datuk Harun mengarahkan kami menggunakan Balai Desa. Pastinya ini harus di persiapkan.
Dengan kopi, kue kering, dan keramahan keluarga Datuk Harun. Kami mempersiapkan rencana pemutaran.
Tunggu kami, malam ini.
EKSPEDISINEMA!
YAU'WAIKA!


Komentar
Posting Komentar