Langsung ke konten utama

Buku Untuk Terentang

Foto bersama adik-adik Madrasah Ibtidaiyah
Seusai mengajar

"Tangan kanan ke depan,  tangan kiri ke depan,  semua tangan ke depan.  Digoyang-goyang...  Menari poci-poci,  menari poci-poci..  Digoyang-goyang.. 

Kaki kanan ke depan, kaki kiri ke depan,  semua kaki ke depan. Digoyang-goyang...  Menari poci-poci,  menari poci-poci..  Digoyang-goyang." 

Inilah lirik lagu yang Ado nyanyikan bersama anak-anak dan mbak Inggit dengan penuh semangat dan diiringi tawa mereka yang khas. Dengan Menggerakan jari jempol dan mengoyangkan badan. Karena terlalu semangat mereka saling menyenggol lalu membalas dengan mencubit hidung.  Bila sudah begini,  yang lain akan menghindar dan tetap melanjutkan goyangan mereka. Lalu mereka tertawa dan meminta goyangan ini di ulang kembali.  Dan dengan semangat juang,  Ado kembali bergoyang. Hehehe


Selama 2 hari Ado menginap di Sekretariat KKN Universitas Bengkulu Periode 82 Kelompok 23.  Dalam rangka Survei Ekspedisinema Pigura. Kak Nando,  Kak Agus,  Mbak Dwi,  Mbak Inggit,  dan kedua orang mbak yang aku lupa namanya.  Maafkan. Dan bersedia untuk Ado repotkan, hihihi... 
(Ado akan menjelaskan Mengenai project Ekspedisinema di lain tulisan,  ya...) 

Ado bersama anak-anak dari Madrasah Ibtidaiyah Swasta Napal Jungur Desa Lubuk Terentang Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Teman-teman yang tadi pagi bergoyang poci-poci bersama.  Mereka mengajak Ado ke air terjun Suban. Menikmati air terjun nan dingin,  udara yang sejuk
serta adik-adik kecil yang mengajari salto.  Huha,  untungnya Ado sedikit penakut bila melihat arus deras.

Alhasil, Ado hanya duduk di pinggir sungai sambil merendam kaki.  Grrrr..  Dingin. Lalu datang adik kecil yang ngajakin ngobrol.  Kira-kira kalo di pake Bahasa Indonesia artinya akan seperti ini,

Adik Kecil mempratikkan gaya salto

"Yuk, sekolah di kota enak nggak?" Ucap bocah laki-laki berusia 8 tahun dengan kulit sawo matang dan sangat jago salto di air. 

"enak dek, disini juga enak. Ada bu guru, pak guru,  ada kawan-kawan yang bisa diajak main." jawabku antusias. 
"Banyak buku di Kota yuk?" tanyanya. 
"Buku?  Hmm..  Banyak dek,  kita bisa beli buku di pasar."
Bocah kecil ini menyelam lalu menimbulkan kepalanya lagi, lalu berkata, "Kalo ayuk kesini lagi bawakan buku iyo yuk..."

Atas dasar inilah,  sepulang dari survei Ado berinisiatif untuk mengumpulkan buku pelajaran anak-anak SD.  Sebenarnya banyak alasan yang tersirat dan rasanya tak usah di umbar mengapa.  Pastinya,  siapa saja yang melihat semangat berkobar dimata adik-adik kecil ini akan melakukan hal yang sama. 

Ado mencoba menuliskan kebutuhan buku dan apa saja yang layak untuk disumbangkan.  Baju, buku,  permainan, alat rumah tangga,  atau apa saja yang masih layak pakai. Syaratnya mereka yang akan ikut berpastisipasi haruslah ikhlas terlebih dahulu,  karena mengapa?  Mengikhlaskan barang agar barokah. 

Niatan ini disambut baik oleh Ibu Nila Arianti dan Ibu Meka Kano.  Mereka berdua adalah Guru SMkN 3 Kota Bengkulu yang dalam kesehariannya dikenal ramah dan penyayang. Berbagai barang layak pakai di ikhlaskan,  baju anak,  buku pelajaran untuk anak SD,  buku resep untuk ibu-ibu desa,  baju layak pakai untuk ibu-ibu dan alat rumah tangga seperti penanak nasi. 

Semua barang yang sudah dikumpulkan kami sortir sesuai kategori dan kami bungkus rapi. Dan dibawa menggunakan mobil.  Untuk menuju lokasi yang berjarak sekitar 2 jam dari rumah ( Di Kota Bengkulu). 

Ado tidak ikut dalam kegiatan ini dikarenakan Ospek universitas.  Sedih memang,  namun ada doa dan keikhlasan yang Ado dan teman-teman lain titipkan. 

Kak Nando bilang,  anak-anak disana mengucapkan terima kasih. Katanya "bilangin makasih sama yuk Ica,  nanti suruh yuk Ica kesini lagi." 

Senang rasanya bisa berbagi.  Apalagi semua barang layak pakai telah habis.  Mereka berbagi dan menggunakannya untuk ke sekolah,  bermain,  dan pergi ke kebun. Ah indahnya!  Andai Ado bisa melihat langsung. 

Ada secercah harapan baru ketika buku dibagikan.  Ini bulan kemerdekaan,  bulan Agustus.  Bila dahulu pejuang Indonesia berjuang menggerahkan tenaga dan airmata.  Maka Ado sebagai remaja berjuang dengan caranya. 
 Cara seperti ini,  berbagi kebahagian kepada calon penerus bangsa. Cara yang dapat dilakukan oleh siapa saja.  Tak perlu muluk-muluk berencana melakukan aksi yang besar. Cobalah memulai dari yang kecil. Seperti aksi kali ini #bukuuntukterentang. 

Sedikit renungan Ado untuk Bulan Kemerdekaan ini. "Ado tidak ingin menyalahkan pemerintah atas kekurangan sarana dan prasarana. Ado juga tidak ingin menjual keadaan mereka agar mendapat perhatian orang banyak.  Ado percaya,  bila mereka saja sanggup belajar dari keterbatasan lalu kenapa kita harus kasihan?  Mereka tidak perlu dikasihani.  Kita juga tidak perlu mengutuk pemerintah.  Kita hanya perlu menyadari bahwa kita dapat melakukan aksi sederhana untuk membantu orang lain. Kobarkan semangat perjuangan!  Dirgahayu IndonesiaKU Ke 72! Merdeka!"

Ado mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah ikhlas dalam melakukan aksi ini bersama Ado.  Bunda Nila Arianti (merupakan kakak keduaku), Kak Nando (merupakan kakak ke-enamku),  Ibu Meka Kano (Guru PKN kesayanganku di SMkN 3), Teman-teman Kelompok 23 KKN UNIB,  dan seluruh masyarakat Desa Lubuk Terentang.  
Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wajib Dibaca! Struktur Tim Produksi Film Yang Lengkap!

Tulisan ini  Ado  buat secara khusus buat kamu biar nggak binggung. Maksudnya kalo kamu udah tau struktur tim produksi yang lengkap, kedepannya kamu bisa bentuk seperti ini. Apalagi kalo kamu udah niat pengen bikin film secara profesional. Yaa.. kalo nggak, setidaknya kamu sudah tau gimana struktur tim produksi yang lengkap banget. Semuanya udah pada tau kan, kalo pembuatan film pada dasarnya terdapat 3 tahap yaitu, tahap praproduksi, produksi, dan pasca produksi. Nah, dalam setiap tahap ini ada yang bekerja sesuai dengan deskripsi pekerjaannya, loh. Gak percaya? Bener nih gak percaya? Scroll ke bawah deh, biar percaya :D Tahapan Praproduksi : Produser bertugas mencari dana untuk produksi film. Seorang produser juga bertanggung jawab pada keseluruhan produksi. Penulis cerita bertugas menulis sinopsis yang di kembangkan menjadi skenario dan berisi komentar atau dialog. Tahapan Produksi : Sutradara bertugas menerjemahkan naskah ke dalam adegan film dan mengarahkan a...

PERAWAN DAN PEREMPUAN

Perempuan Muda Desa Sumber Urip dan Talang Lahat             Perawan sangat erat kaitannya dengan seorang Perempuan. Semacam adik kandung yang tidak dapat di pisahkan, kedua kata ini menyatu, dan membentuk sebuah stigma yang berkembang biak di dalam tatanan sosial masyarakat. “Masih Perawan” atau “Sudah Tidak Perawan Lagi” adalah momok menakutkan bagi seorang Perempuan. Reaksi yang diberikan oleh masyarakat pun beragam. Dari mulai perlakuan yang teramat istimewa hingga pembedaan yang memilukan hati.                 Lewat film “Perawan” yang disutradarai oleh Fitria Heni Sa’adah dan di produksi tahun 2016 oleh Komunitas Wadon Films asal Yogyakarta. Film ini sukses diputar di Balai Desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong. Film ini bercerita tentang   seorang remaja bernama Nala yang lahir dari rahim Narni yang hamil akibat perkosaan. Narni diperk...

PERKAWINAN ANAK MELAHIRKAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

Sekitar 75 orang anggota Forum Perempuan dan Laki-laki Muda Kabupaten Seluma dampingan Cahaya Perempuan WCC bersama Aliansi Satu Visi (ASV) menyelenggarakan Perayaan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dengan kegiatan Nonton dan Diskusi Bareng Kaum Muda di Lapangan Tertutup Futsal Talang Tinggi, Kabupaten Seluma, tepatnya di tgl 25 November 2018. Film ELINAH satu dari 16 Film Festival yang diputar serentak di beberapa kota/kabupaten di Indonesis. Film Elinah, berdurasi 19 menit yang mengajak pentonon berfikir ulang tentang akibat perkawinan di usia anak. Bercerita tentang Seorang gadis bernama Elinah yang sudah menikah dengan laki-laki dewasa. Elinah mengalami kehamilan, namun ia masih bersikap seperti anak- anak. Hal ini tergambar melalui adegan Ia memanjat pohon mangga, meninggalkan masakan yang sedang ia masak di atas kompor. Secara psikologis, ia mengalami tekanan pada masa kehamilan dan berniat untuk kabur, pulang ke kampung halaman dan menemui ibunya. Namun, hal itu...